Skutermatik alias skutik kini menjadi jenis paling diandalkan oleh produsen sepeda motor di Indonesia setelah jenis bebek (underbone). Bagaimana tidak, sepanjang tahun 2008 lalu penjualan skutik di pasar sepeda motor nasional mencapai 23 persen atau setara dengan 1,38 juta unit dari total penjualan motor yang mencaai enam juta unit.
Tahun ini, pertarungan di segmen skutik diperkirakan bakal kian seru mengingat banyak pilihan merek bagi konsumen. Salah satu varian baru yang ikut meramaikan persaingan pasar adalah Suzuki Skydrive Dynamatic 125cc. Skydrive melengkapi dua varian lainnya, Skywave dan Spin guna menantang sang pesaing Yamaha Mio Soul dan Honda Beat maupun Honda Vario.
Presiden Direktur PT IMNI, Gunadi Sindhuwinata mencanangkan Skydrive sebagai ikon kebangkitan mereka.Menurut Gunadi, pihaknya siap merebut pasar kompetitor dengan produknya itu. Gunadi mengklaim Skydrive di kelasnya memiliki tenaga paling besar dengan rasio penggunaan bahan bakar satu liter bensin untuk jarak tempuh 41 km.
Lebih Bertenaga
Untuk mengukur sejauh mana Skydrive mampu merebut pasar para pesaingnya, penulis membuat perbandingan teknis maupun harga dengan pesaingnya. Untuk tenaga, Skydrive bertenaga maksimum 6,9 kw atau sekitar 5,075 tenaga kuda (hp) pada putaran mesin 7.500 putaran per menit (rpm). Angka itu sedikit diatas Vario yang bertenaga maksimum 4,93 hp pada putaran 8.000 rpm dan Mio Soul yang bertenaga maksimum 4, 56 hp pada putaran 8.000 rpm. Dari perbandingan tersebut, Skydrive memang memiliki tenaga lebih besar pada putaran mesin yang lebih rendah disbanding dua pesaingnya.
Untuk akselerasi (percepatan) dari titik nol ke 200 meter, akselerasi Vario dan Mio dicapai dalam waktu 10,5 detik, sedangkan Skydrive 10,3 detik. Sedangkan kecepatan maksimum Skydrive mencapai 101,9 km per jam masih lebih tinggi dari Vario (98,5 km per jam) dan Mio (97,6 km per jam). Namun itu bukan sesuatu yang luar biasa mengingat kapasitas mesin Skydrive memang lebih besar dibanding kedua pesaingnya.
Saat penulis menjajalnya di sejumlah lokasi di Jakarta beberapa waktu lalu, akselerasi Skydrive lebih baik dibandingkan Spin 125. Bermesin 125cc, akselerasinya cukup garang dan tidak kekurangan tenaga di putaran atas. Sementara untuk Spin 125cc harus sedikit kerja keras agar bisa memperoleh tenaga atas. Kelebihan Skydrive lainnya yang tidak dipunyai Spin adalah pengereman, terutama rem belakang yang lebih kuat daya cengkeramnya.
Sementara itu dari sisi harga posisi harga Skydrive berada diantara Spin dan Skywave. Harga yang dipatok antara Rp 13 juta – Rp 13,2 juta on the road. Harga ini terbiolang kompetitif dibanding Vario yang dibanderol seharga Rp 14,65 juta.
Dibandingkan dengan produk Suzuki lainnya, Spin Knight Rider, harga tersebut tidak jauh berbeda. Karena versi tersebut ditawarkan Suzuki dengan harga Rp 12.825.000. Berikut perbandingan harga Skydrive dibandingkan kompetitor terdekatnya.
Namun beberapa keunggulan dari sisi teknis tersebut tidak akan secara otomoatis membuat Skydrive bakal lebih laris disbanding pesaingnya. Faktor-faktor non teknis seperti kepercayaan konsumen terhadap sebuah merek maupun value for money atau bahasa sederhananya nilai jual kembali sebuah sepeda motor sangat menentukan pilihan konsumen. Dua hal itu hingga kini masih menjadi tantangan berat bagi Suzuki untuk bisa menyaingin Yamaha dan Honda di pasar sepeda motor, khususnya pasar skutik.
Terlebih lagi pasar yang dibidik oleh Skydrive bukanlah pasar yang mudah ditaklukkan. Seperti dikatakan oleh Asisten Kepala Pemasaran 2W IMNI, Setiawan Surya, Skydrive membidik pasar anak muda berusia 19-23 tahun. Namun agaknya, IMNI tetap yakin dengan kemampuan untuk mencuri pasar para pesaingnya. IMNI pun menargetkan penjualan sebanyak 12.000 unit per bulan atau hampir mencapai 150 ribu unit per tahun. Seberapa besar Skydrive mencuri perhatian penggemar Skutik Indonesia? Kita tunggu saja.